Menumbuhkan Budaya Kolaboratif di Sekolah melalui Kemitraan Pembelajaran: Ketika Pedagang Parfum, hingga Pengusaha Bimbel Masuk ke Kelas
Oleh Arie Hendrawan, S.Pd., M.Sos.

Gambar 1. Demonstrasi Pedagang Parfum dalam Meracik Larutan pada Kegiatan Kemitraan Pembelajaran dengan Mapel Kimia
Penalaran kritis dan pembelajaran kontekstual merupakan “nyawa” dari pembelajaran mendalam (deep learning). Deep learning sendiri adalah pendekatan pembelajaran yang diinisasi oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Deep learning diklaim bukan sebagai kurikulum baru, tetapi pendekatan yang berakar dari berbagai model pembelajaran sebelumnya, seperti CBSA, PAIKEM, dan CTL.
Mengapa deep learning menekankan kemampuan berpikir kritis/ tingkat tinggi dan kontektualisasi pembelajaran? Setidaknya, ada dua persoalan yang coba diatasi oleh deep learning. Pertama, rendahnya keterampilan High Order Thinking Skills (HOTS) murid Indonesia Indonesia. Berdasarkan hasil “PISA” 2022, hanya kurang dari 1% peserta didik yang bisa menjawab soal level 4-6 (HOTS).
Kedua, munculnya fenomena “schooling without learning” (sekolah tetapi tidak belajar) pada dunia pendidikan. Fenomena tersebut digambarkan sebagai kondisi ketika murid hadir secara fisik di sekolah, namun kognitifnya tidak memperoleh pengetahuan yang bermakna. Alih-alih mengkorelasikan materi dengan kehidupan sehari-hari, proses pembelajaran sering kali berfokus pada konsep dan abai terhadap konteks.
Oleh karena itu, pembelajaran sebagai ruang lingkup terkecil dalan sistem pendidikan kita, perlu untuk mulai meletakkan perhatian pada prinsip-prinsip maupun pengalaman belajar deep learning. Dalam ekosistem sekolah, pembelajaran menempati posisi sangat strategis sebagai layanan elementer pendidikan. Salah satu langkah untuk mengukur kualitas pembelajaran adalah melalui rapor pendidikan sekolah.
Berdasarkan rapor pendidikan tahun 2025, indikator kualitas pembelajaran di SMA Islam Al Azhar 14 mengalami penurunan sebesar 4,06 poin dari angka 70,06 menjadi 66, meskipun masih meraih capaian baik serta berada di peringat atas (1-20%) secara nasional dan provinsi. Data tersebut divalidasi oleh hasil pengisian kuesioner murid (sampling), bahwa kualitas pembelajaran sebagian guru masih perlu ditingkatkan.
Jika kualitas pembelajaran di sekolah mengalami penurunan dalam rapor pendidikan, maka menjadi “alarm” bagi kepala sekolah untuk segera mengambil peran. Paradigma kepemimpinan kepala sekolah saat ini adalah sebagai pemimpin pembelajaran, bukan sebatas pengelola administrasi. Hal tersebut kompatibel dengan gaya kepemimpinan instruksional yang berfokus pada proses pembelajaran dan pemberdayaan guru.
Kembali pada konteks deep learning. Sebenarnya, terdapat satu aspek menarik dalam deep learning yang dapat menjadi “faktor determinan” untuk mengatasi dua problem di atas, yakni kemitraan pembelajaran. Kemitraan pembelajaran merupakan pendekatan pendidikan yang berusaha melibatkan kolaborasi aktif antara guru, siswa, orang tua, komunitas, instusi pendidikan, DUDIKA, dan mitra profesional lainnya.
Menurut Michael Fullan and Joanne Quinn (2016), karakteristik lingkungan kelas pembelajaran mendalam salah satunya adalah kolaborasi, yaitu murid mempunyai keterampilan untuk berkolaborasi di dalam kelas dan di luar kelas. Pada konteks pembelajaran mendalam, hal itu bisa disebut sebagai kemitraan pembelajaran.
Kemitraan pembelajaran membentuk hubungan yang sangat dinamis.
Kemitraan pembelajaran bisa menciptakan lingkungan belajar yang lebih beragam, relevan, dan mendalam bagi murid. Jika dibandingkan dengan beberapa metode lain, kemitraan pembelajaran pada deep learning juga lebih inklusif. Tidak seperti STEAM yang cenderung mengalienasi Mapel tertentu di luar pusat fokus. Atau, metode team teaching yang biasanya membatasi kerjasama guru dalam satu rumpun keilmuan.
Inkuiri Kolaboratif
Berdasarkan pengalaman penulis, salah satu strategi yang efektif untuk mendorong kemitraan pembelajaran adalah dengan mengimplementasikan lesson study berbasis Komunitas Belajar (Kombel). Pendekatan tersebut menstimulasi pemberdayaan dan penumbuhan budaya reflektif guru. Di sini, kepala sekolah bisa menggunakan siklus inkuiri kolaboratif: asses, design, implement, dan measure-reflect-change.
Dalam tahap asses, kepala sekolah bersama tim penggerak Kombel, menggali data terkait kualitas pembelajaran, khususnya pada aspek kemitraan pembelajaran. Data tersebut bisa berasal dari rapor pendidikan sekolah terbaru, maupun hasil kuesioner yang dibagikan kepada murid. Di samping itu, evidence juga dapat bersumber dari coaching kepala sekolah kepada guru mengenai masalah pembelajaran.
Berikutnya, pada tahap design, kepala sekolah dan tim mulai merancang strategi lesson study berbasis Kombel. Lesson study sudah lama berkembang di Jepang sejak awal 1900-an sebagai forum pengkajian pembelajaran secara kolaboratif. Paling tidak, lesson study dilaksanakan dalam tiga langkah, yakni plan, do, see (Mulyana, 2007). Adapun Kombel sendiri bertujuan untuk sinergi mengoptimalkan pembelajaran mendalam.
Di tahap implement, kepala sekolah mengadakan kegiatan workshop peningkatan kompetensi guru dengan topik kemitraan pembelajaran, sekaligus sebagai kick-off pelaksanaan program lesson study berbasis Kombel. Selanjutnya, tiga langkah lesson study diterapkan melalui supervisi pembelajaran. Supervisi dilakukan oleh kepala sekolah bersama perwakilan guru yang menjadi rekan satu Kombel.
Instrumen supervisi bersifat klinis, sebab aspek pengamatan fokus pada kemitraan pembelajaran yang memuat jenis, proses, dan hasil dari kemitraan pembelajaran. Dari catatan observasi penulis, banyak sekali temuan praktik kemitraan pembelajaran yang menarik. Seperti contoh, ketika Guru Mapel Kimia menghadirkan pedagang parfum di kelas untuk mengaplikasikan materi esterifikasi alkohol dan asam karboksilat.
Selanjutnya, kemitraan antara guru Mapel Biologi dan Pendidikan Pancasila. Terkesan “kurang nyambung”, meskipun ternyata bisa memiliki benang merah yang kuat ketika membahas materi tentang perlindungan keanekaragaman hayati (Biologi) dan budaya taat hukum (Pendidikan Pancasila). Dengan kemitraan pembelajaran, dua guru dapat masuk ke kelas secara bersamaan untuk menyampaikan materi sesuai porsinya.
Cerita menarik lain datang dari kolaborasi antara Mapel Bahasa Indonesia dengan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) yang membuat ilustrasi teks negosiasi melalui AI Generate “picture to video”. Hingga, kemitraan pembelajaran Mapel Ekonomi yang menghadirkan pemilik usaha Bimbel untuk memaparkan rekap transaksi keuangan selama satu bulan sebagai bahan kajian materi akuntasi dasar.

Gambar 2. Kegiatan Window Shopping Karya Murid dalam Kemitraan Pembelajaran Mapel Bahasa Indonesia dengan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA)
Memasuki tahap measure, kepala sekolah bisa mengukur keberhasilan dari penerapan kemitraan pembelajaran dengan menggunakan instrumen kuesioner yang sama seperti di tahap asses. Hasilnya, murid menilai kualitas pembelajaran guru semakin meningkat. Selanjutnya, dalam rilis rapor pendidikan 2026, kualitas pembelajaran juga mengalami kenaikan, khususnya pada metode pembelajaran dan praktik inovatif guru.
Pada tahap reflect, kepala dapat sekolah menggelar forum refleksi bersama yang dihadiri oleh semua guru. Tujuannya, agar para guru bisa saling menginspirasi dengan berbagi praktik baik mengenai kemitraan pembelajaran yang telah diterapkan. Setiap guru kemudian diminta untuk menyusun naskah best practice dengan pendekatan inkuiri kolaboratif dan dibukukan sebagai karya kolektif.
Dampak dari penerapan kemitraan pembelajaran adalah meningkatnya kualitas pembelajaran dan budaya kolaboratif di sekolah. Selain itu, peluang bagi guru untuk mengkontekstualisasikan materi semakin terbuka, sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Terakhir, murid juga bisa melatih keterampilan “critical thinking” karena materi kemitraan pembelajaran dianalisis secara interdisipliner.
Arie Hendrawan – Kepala SMA Islam Al Azhar 14, Fasilitator PM BBGTK Jawa Tengah
