Dialog antara Spiritualitas dan Sosiologi (Refleksi Gejala Sosial melalui Kacamata Ibnu Khaldun)
Oleh Fajar Sumiyarso, S.Pd., Gr.

sumber: https://www.kompasiana.com/faruqmuharram/64865ac04addee5a7b7a42e2/belajar-dari-ibnu-khaldun-sejarawan-dan-sosiolog-muslim-yang-berpengaruh-di-barat
Ada kekuasaan, bernada arogan. Ada banyak ilmu, melahirkan penipu. Ada yang alim, ternyata zalim. Ada posisi, untuk ladang manipulasi. Ada yang berjuang untuk kebenaran, justru dianggap ancaman. Ada yang berbuat keliru, anehnya banyak yang setuju. Ada yang katanya ahli religi, ternyata “predator” sejati. Lantas, apa yang sesungguhnya mereka cari?
Begitulah ungkapan implisit-saya sebagai guru sosiologi-untuk merangkum ragam realitas sosial yang mewarnai pertengahan tahun ini. Silih berganti informasi di media kerap diwarnai peristiwa-peristiwa sosial yang mengusik nurani. Sengaja ragam peristiwa sosial tersebut saya ungkapkan secara tersirat. Tidak ada maksud ingin menghakimi apa dan siapa, akan tetapi semata untuk mengajak pembaca untuk membangun sisi spiritualitas yang pada era kini mulai terbius oleh derasnya arus globalisasi. Soal keadilan, bagi saya cukuplah ayat terakhir Surat At-Tin menerangkan, “Bukankah Allah Hakim yang paling adil?
Secara sosiologi, problematika peran sosial dan paradoks-nya situasi sosial merupakan gejala sosial yang memberi sinyal kepada kita untuk terus menghidupkan kesadaran reflektif. Sebagai manusia, kita tidak hanya dibekali oleh Allah SWT berupa kemampuan intelektual. Akan tetapi, kita juga dibekali kemampuan spiritualitas yang fungsinya lebih mendasar. Salah satunya fungsinya ialah menjadi sarana untuk mengembangakan kesadaran reflektif, di mana dalam pandangan Islam disebut sebagai proses tafakur.
Pembaca yang budiman, kita semua tahu bahwa otak membantu manusia berpikir dan memahami bagaimana dunia bekerja, sedangkan hati membantu manusia memahami untuk apa kehidupan dijalani. Implikasinya, berpikir dengan otak melahirkan pengetahuan, sedangkan berpikir dengan hati melahirkan kebijaksanaan. Artinya, kehidupan bukan hanya menyuguhkan persoalan yang bisa dijelaskan dengan logika, namun juga menghadirkan pertanyaan-pertanyaan yang perlu direnungkan seperti, pertanyaan tentang makna dan tujuan hidup, atau tentang peristiwa-peristiwa yang berada di luar kendali manusia, itu semua hanya bisa dijawab oleh spiritualitas. Sisi spiritualitas membantu manusia melihat apa yang tidak selalu dapat dijangkau oleh nalar. Dalam pandangan Islam, inilah yang disebut dengan tafakur.
Berkaitan dengan spiritualitas, mari sejenak kita meminjam kacamata seorang ilmuwan muslim dari Tunisia, dengan cara pandangnya yang bersifat yang sosiologis. Ia adalah Ibnu Khaldun (1332-1406). Ada dua karya beliau yang menjadi pijakan saya dalam menulis topik ini. Pertama, karya monumental beliau yaitu Muqaddimah. Kedua, karya khususnya tentang ilmu tasawuf, yaitu Syifa’ us-Sail. Ia menjelaskan bahwa manusia diberi anugerah berupa akal dan hati nurani (fu’ad) oleh Ilahi, tentu bukan tanpa alasan. Keduanya adalah elemen spiritualitas yang perlu ditakar secara seimbang agar proses tafakur sebagai makhluk sosial senantiasa menuai hikmah.
Selain Ibnu Khaldun, ada pula seorang ilmuwan sekaligus filsuf dari Perancis yang menaruh perahtian utama pada spiritualitas. Ia adalah Pierre Teilhard de Chardin (1881-1955). Ia mengatakan bahwa “we are not human beings having a spiritual experience, we are spiritual beings having a human experience”, yang artinya “Kita bukanlah manusia yang memiliki pengalaman spiritual, namun kita adalah makhluk spiritual yang memiliki pengalaman kemanusiaan”. Pernyataan tersebut memperjelas bahwa, berbagai peristiwa atau gejala-gejala sosial yang terjadi dalam kehidupan adalah bentuk dari pengalaman kemanusiaan. Oleh karena itu, kebijaksanaan manusia bukan bermula dari daya pikir rasional, akan tetapi bermula dari dimensi terdalam manusia yang berkaitan dengan pencarian makna dan arah tujuan hidup, yaitu spiritualitas.
Berangkat dari hasil refleksi sebagai guru sosiologi, saya menemukan sebuah butir perenungan. Butir renungan yang saya maksud ialah bahwa, menyimak gejala-gejala sosial tanpa menghadirkan spiritualitas hanya akan menjadikan sisi batiniah menjadi kering dari hikmah. Esensi menyimak peristiwa atau gejala sosial baik secara langsung maupun melalui media sosial, seyogyanya tidak sekedar untuk update informasi, mencari materi pembelajaran, mencari bahan obrolan tentang uforia peristiwa. Akan tetapi bagaimana kita membaca atau menyimak gejala-gelaja sosial menjadi jalan untuk mengubah pengetahuan menjadi kebijaksanaan.
Jiwa yang berpikir (Latifah Insaniyah)
Pada umumnya berpikir ialah aktivitas penggunaan akal budi untuk mempertimbangkan dan memutuskan sesuatu. Sedangkan akal sendiri adalah daya pikir (untuk memahami sesuatu), pikiran, ingatan, dan jalan atau cara untuk melakukan sesuatu. Dalam berpikir kita menggunakan instrumen fisik berupa otak sebagai pusat kendali saraf manusia yang mengatur pikiran, memori, gerak (KBBI). Senada dengan definisi tersebut, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa naluri akal budi memiliki kecenderungan untuk mencari ilmu dan pemahaman. Akal juga berperan dalam memproses informasi yang rasional, seperti menyusun, menelaah, menggabungkan, dan memisahkan sesuatu.
Membaca gejala-gejala sosial sering dikaitkan dengan memahami sebab-akibat sebuah realitas sosial secara rasional. Akan tetapi Ibnu Khaldun memberikan perspektif yang unik dalam memahami gejala sosial terutama di tengah dinamika modernitas dan globalisasi. Ia mengintegrasikan dimensi spiritual dan analisis sosiologis. Ia begitu peduli dan menaruh perhatian akan eksistensi hati nurani (fu’ad) dalam diri manusia, sebagai penyelaras rasionalitas akal manusia.
Berbicara tentang hati nurani bukanlah satu kelemahan, atau sebuah penghalang untuk meraih kesimpulan rasional di bawah kendali akal manusia. Dalam karyanya berjudul Syifa’ us-Sail, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa, di dalam tubuh manusia Allah swt telah tempatkan sesuatu yang disebut fu’ad (فؤاد). Dalam Bahasa Arab, fu’ad diartikan sebagai “hati”, “hati nurani”, “jantung”, atau “pikiran dan jiwa”. Dalam istilah lain disebut juga dengan “lathifah insaniah”, yaitu jiwa yang berpikir. Di satu sisi, dianggap sebagai jiwa, di satu sisi yang lain dianggap sebagai “ruh” atau fu’ad (lubuk hati). Ia-hati-adalah entitas halus di dalam manusia yang merindukan pengetahuan dan kedekatan dengan Ilahi.
Hati nurani (fu’ad) memiliki peran yang amat penting sebagai elemen spiritualitas dalam proses tafakur (berpikir). Ada peristiwa yang menjadi bukti empiris yang menguatkan eksistensi hati nurani. Dalam Sirah Nabawiyah, terdapat kisah peristiwa pembelahan dada Nabi Muhammad SAW (disebut juga Syaq al-Shadr). Peristiwa ini terjadi ketika beliau masih dalam masa pengasuhan ibu susu beliau, Halimah As-Sa’diyah, di perkampungan Bani Sa’ad. Malaikat Jibril datang, membelah dada beliau, mengeluarkan segumpal darah hitam (bagian setan), mencucinya dengan air Zamzam di dalam wadah emas, lalu menyatukannya kembali. Pada peristiwa itu membuat kawan-kawan sepermainannya ketakutan. Peristiwa pembelahan dada tersebut diketahui oleh Halimah As-Sa’diyah, dan kejadian itulah yang menjadi alasan utama Halimah mengembalikan Nabi Muhammad ke pangkuan ibundanya, Aminah. Selain itu, jahitan fisik di dada Nabi Muhammad SAW juga menjadi bukti nyata peristiwa tersebut bagi para sahabat yang hidup sezaman dengan beliau, sebagai mana sebuah hadits, “Sungguh, aku pernah melihat bekas jahitan itu di dada Rasulullah SAW.” (HR. Muslim).
Tafakur lebih dari sekedar perihal berpikir rasional. Tafakur melibatkan hati nurani (fu’ad) untuk membedakan mana kebenaran dan kebatilan, dan mana kesalehan dan kemungkaran. Apabila kita lihat perilaku individu-individu dalam gejala sosial-pada alenia pertama-yang cenderung mengarah pada patologi (penyimpangan) sosial, barangkali adalah individu-individu yang belum mendahulukan spiritualitasnya dalam berinteraksi sebagai makhluk sosial. Akirnya mereka yang sebetulnya menempati posisi sosial atas-berkuasa, berilmu, mulia, religius-justru memunjukkan perilaku-perilaku yang kontra produktif dari tingginya kedudukan dan peran sosial yang dimiliki.
Pendekatan sosiologis menurut Ibnu Khaldun
(referensi buku bacaan: Syifa’ us -Sail Ibnu Kahldun)
Di era kompeksitas yang kehilangan kedalaman makna ini, barangkali kita perlu meminjam kaca mata sosiologis Ibnu Khaldun untuk bisa menjernihkan pikir dalam melihat realitas sosial. Ia peduli akan peran spiritualitas sebagai pengendali tindakan rasional. Ia berupaya mendamaikan dua sisi keilmuan, yaitu esensi batiniah dan analisis logis atas fenomena sosial. Dalam hal ini Ibnu Khaldun menggunakan pendekatan sosiologis yang berberbeda dengan ilmuan barat umumnya. Pendekatan sosiologis menurut Ibnu Khaldun ialah pendekatan yang menjembatani antara spritualitas dan rasionalitas. Menurutnya, spiritualitas bukan jalan untuk kabur dari dunia, melainkan jalan kembali ke dalam diri, yang membumi dalam keikhlasan dan tidak merasa lebih tinggi dari yang lain. Dari pernyataan ini terlihat bahwa kedalaman spiritualitas Ibnu Khaldun tidak hanya lahir dari ketajaman intelektualnya sebagai seorang ilmuan, tetapi juga dari latar belakangnya sebagai seorang ulama yang akrab dengan tradisi tasawuf.
Menurut Ibnu Khaldun perjuangan spiritualitas merupakan salah satu dasar terciptanya keteraturan sosial. Ia memberikan pencerahan baru bahwa, spiritualitas adalah unsur penting untuk membangun peradaban yang berkarakter dan bermartabat yang berpijak pada keimanan, kecerdasan, dan semangat keadilan.
Nasehat Peradaban Ibnu Khaldun
(referensi buku bacaan: Muqaddimah Ibnu Khaldun)
Peradaban tidak hanya dibangun oleh kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, atau kekuatan ekonomi. Jauh sebelum berbagai persoalan sosial modern muncul, Ibnu Khaldun telah menunjukkan bahwa bangkit dan runtuhnya sebuah peradaban sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang membangunnya. Menurutnya, kekuasaan yang kokoh bertumpu pada kemuliaan akhlak pemimpinnya, sedangkan ketabahan lahir dari kesadaran batin, bukan semata-mata karena aturan atau pengawasan. Oleh karena itu, kekuatan sebuah peradaban pada akhirnya bergantung pada karakter manusia yang menjalankannya. (Hasil baca buku Muqaddimah, halaman 228, 254-255.)
Ibnu Khaldun juga mengingatkan bahwa kemewahan yang berlebihan menjadi awal melemahnya peradaban. Ketika kenyamanan berubah menjadi kebiasaan, daya juang, keberanian, dan solidaritas perlahan memudar. Puncak kemunduran itu adalah kezaliman, ketika kekuasaan tidak lagi menjaga keadilan dan hak-hak masyarakat. Dengan demikian, kehancuran suatu bangsa bukanlah peristiwa yang datang secara tiba-tiba, melainkan akibat dari karakter yang merosot, kemewahan yang melalaikan, dan keadilan yang ditinggalkan. (Hasil baca buku Muqaddimah, halaman 222–225; 250; 299–300.)
Penutup
Peradaban yang besar tidak hanya dibangun oleh kecanggihan teknologi, kemajuan ekonomi, atau tingginya ilmu pengetahuan. Ia bertumpu pada manusia yang mampu menjaga kejernihan akal, kebeningan hati, dan kemuliaan akhlaknya. Di tengah derasnya arus informasi dan kompleksitas kehidupan, barangkali yang paling kita butuhkan bukan sekadar mengetahui lebih banyak, melainkan belajar memaknai lebih dalam. Sebab, gejala sosial tidak hanya untuk diamati, tetapi juga untuk direnungi. Tidak hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk memperbaiki diri.
Akhirnya mari kita renungkan. Apakah ilmu telah mendekatkan kita kepada kebijaksanaan? Apakah jabatan menjadikan kita semakin adil? Apakah kemajuan membuat kita semakin bersyukur? Dan ketika kelak perjalanan hidup ini berakhir, apakah yang akan tersisa hanyalah jejak keberhasilan, atau juga jejak kebaikan yang memberi makna bagi sesama? Barangkali, dari pertanyaan-pertanyaan itulah spiritualitas menemukan perannya, yakni mengantarkan manusia menjawab pertanyaan besar yaitu
“Kemanakah sesungguhnya arah nurani kita menuju?”
Fajar Sumiyarso, S.Pd., Gr. – Guru Sosiologi SMA Islam Al Azhar 14 Semarang

