Membangun Kelentingan Belajar: Antara Kepungan Algoritma dan Cahaya Ilmu
Oleh: Muji Utama, S.Pd., M.Ed., M.Si.

Sumber: https://www.suara.com/tekno/2020/01/08/144237/ini-5-prediksi-tren-teknologi-2020#google_vignette
“Rendahnya kemampuan kritis murid hari ini hanyalah gejala; akar masalahnya adalah hati yang terdistraksi oleh algoritma yang memanjakan mata.”
Dunia pendidikan hari ini sedang menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar perubahan kurikulum atau metode pengajaran. Di selasar sekolah, kita menyaksikan sebuah fenomena crisis of depth. Murid-murid kita, yang merupakan bagian dari generasi digital, sedang terkepung oleh algoritma media sosial, seperti TikTok dan Instagram Reels, yang memanjakan otak dengan instant gratification. Dampaknya nyata dan mengkhawatirkan, yaitu menurunnya kesadaran, rendahnya kemauan untuk berproses, dan mengikis daya lenting (resilience) dalam belajar.
Secara kognitif, paparan konten berdurasi singkat yang masif telah menggerus kemampuan berpikir analisis dan kritis (critical thinking). Murid terbiasa menjadi konsumen informasi yang pasif, bukan pengolah ilmu yang aktif. Pengetahuan umum mereka seringkali menjadi dangkal karena terbiasa dengan ringkasan cepat tanpa proses analisis mendalam. Namun, sebagai pendidik di institusi Islam, kita harus meyakini bahwa selalu ada harapan. Islam bukan sekadar opsi dalam pendidikan, melainkan kunci kesuksesan holistik yang mencakup seluruh aspek kehidupan, selaras dengan warisan keteladanan dari generasi salaf yang salih.
Krisis Adab dan Matinya Kemampuan Analisis
Dalam pandangan Islam, ilmu bukan sekadar transfer data kognitif, melainkan nur yang menuntut kesiapan bejana hati untuk menerimanya. Oleh karena itu, mendidik murid untuk bijak dalam dunia digital adalah upaya menjaga kesucian hati mereka dan menjauhkan dari kesia-siaan. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah saw., “Di antara kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi).
Media sosial sering kali menjadi jebakan gaflah yang mematikan kepekaan intelektual. Ketika waktu habis untuk menyaksikan konten yang dangkal, kemampuan tafakur, proses berpikir mendalam yang diperintahkan dalam banyak ayat Al-Qur’an, menjadi tumpul. Padahal, berpikir kritis adalah prasyarat untuk memahami tauhid dan tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta. Tanpa kemampuan analisis dasar, seorang murid akan mudah terombang-ambing oleh tren yang merusak akidah serta akhlak.
Revitalisasi Niat: Bahan Bakar Kelentingan
Mengapa banyak murid SMA hari ini cepat menyerah saat menghadapi materi pelajaran yang kompleks? Jawabannya sering kali terletak pada rapuhnya landasan motivasi. Di sinilah kita perlu melakukan meninjau kembali makna niat.
Dalam kitab Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam, Ibnu Rajab Al-Hanbali menjelaskan bahwa niat bukan sekadar formalitas lisan, melainkan pendorong utama yang menentukan keberlanjutan sebuah usaha. Jika seorang murid belajar hanya demi nilai rapor, pengakuan sosial di dunia maya, atau sekadar menggugurkan kewajiban sekolah, maka ia akan memiliki kelentingan yang rendah. Ia akan mudah bosan dan frustrasi.
Namun, jika belajar diletakkan sebagai bentuk ibadah Lillahi Ta’ala dan kewajiban syar’i untuk mengangkat kebodohan diri, setiap kesulitan kognitif akan dipandang sebagai jihad ilmiah. Niat yang tulus karena Allah akan mendatangkan pertolongan dari-Nya. Spiritualitas inilah yang menjadi “bahan bakar” yang tidak pernah habis, yang membuat beban belajar yang berat terasa ringan dan penuh berkah.
Mahabah dan Walayah: Kunci Pertolongan Allah
Harapan terbesar dalam pendidikan Islam adalah meraih walayah, yaitu cinta dan pertolongan khusus dari Allah kepada hamba-Nya yang beriman. Allah berfirman dalam QS. Al-Ankabut (29): 69: “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Kecintaan kepada Allah atau mahabah adalah kunci utama keberhasilan pendidikan. Ketika seorang pencari ilmu mencintai Allah, ia akan berusaha menjaga adabnya terhadap ilmu dan waktu. Ia akan memahami bahwa kecerdasan bukan sekadar hasil kerja saraf otak, melainkan anugerah yang harus dijemput dengan ketakwaan. Sebagaimana nasihat masyhur dari para ulama: ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan diberikan kepada hati yang terbiasa dengan maksiat dan kesia-siaan.
Keteladanan Salaf: Melawan Mentalitas Instan
Untuk membangkitkan kembali kelentingan belajar, kita perlu merenungkan bagaimana para salafus saleh memandang proses menuntut ilmu. Sebagai contoh, Imam Ahmad bin Hanbal pernah melakukan perjalanan kaki ribuan mil dari Baghdad menuju Yaman demi mendapatkan satu hadis. Beliau tidak mencari ringkasan atau jalan pintas. Begitu pula sahabat yang mulia, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, yang rela menunggu di depan pintu rumah gurunya hingga wajahnya tertutup debu demi sebuah ilmu.
Keteladanan ini mengajarkan bahwa analisis yang tajam dan pengetahuan yang luas tidak lahir dari algoritma yang menghibur, melainkan dari kesungguhan, pengorbanan waktu, dan adab yang tinggi. Para ulama salaf mampu menghasilkan karya-karya besar karena setiap goresan tinta mereka didasari oleh mahabah atau kecintaan kepada Allah dan jauh dari sikap ittiba’ul hawa (mengikuti hawa nafsu) dalam mengerjakan hal yang sia-sia.
Rendahnya kemampuan berpikir kritis murid hari ini adalah gejala dari hati yang terdistraksi. Solusinya bukanlah semata-mata rekayasa instrumen kurikulum modern, melainkan kembalinya kita pada kemurnian niat dengan pemahaman para salaf. Dengan memperbaiki niat, meninggalkan kesia-siaan, dan menanamkan kecintaan yang mendalam kepada Allah, kita optimis bahwa murid-murid kita akan kembali menjadi generasi yang tangguh, cerdas secara analitis, dan memiliki kedalaman spiritual yang kokoh di bawah naungan pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala.
Muji Utama, S.Pd., M.Ed., M.Si.-Guru Bahasa Inggris SMA Islam Al Azhar 14 Semarang

