Menjalani dan Mendalami Peran

Profesi guru di kalangan masyarakat sering dilabeli sebagai pengabdian dan penuh kemuliaan. Penyematan label tersebut begitu nampak pada mereka yang menjadi guru honorer baik di sekolah negeri maupun sekolah swasta. Tidak sepenuhnya salah, mengingat upah atau gaji yang diterima tidak sebanding dengan keringat yang mereka kucurkan. Sebuah ironi bagi suatu bangsa yang meletakkan pendidikan sebagai salah satu cita-citanya, mencerdaskan kehidupan bangsa. Meski begitu tidak berarti guru PNS dan PPPK terlepas dari label pengabdian dan kemuliaan. Setiap guru sama mulia dan mengabdinya untuk kemajuan bangsa.
Tak jarang keluhan yang harus dipendam saat menjalani profesi sebagai guru. Lelah yang dirasakan bukan sekadar perihal fisik yang harus berdiri berjam-jam saat mengajar di dalam kelas, tetapi juga lelah mental dan emosional. Guru dituntut serba bisa untuk menyesuaikan perkembangan zaman. Mulai dari tertib administrasi, penyesuaian kurikulum yang seringkali berganti-ganti sesuai kebijakan menteri, sampai dengan memahami dinamika kelas yang memiliki beragam karakteristik satu dengan lainnya. Ada saat-saat di mana rasa penat tersebut menumpuk dan ingin menyerah.
Di dalam kelas misalnya, selain harus menguasai materi, guru juga dituntut untuk memahami karakter murid dengan segala latar belakangnya. Hal ini dilakukan untuk menentukan model, metode dan langkah apa yang harus ditempuh demi memperoleh hasil pembelajaran yang maksimal. Ada murid yang mudah menangkap materi, ada yang harus diulang-ulang untuk benar-benar paham. Ada kelas yang mayoritas muridnya pendiam dan penurut, ada pula kelas yang muridnya ramai dan susah dikondisikan. Di mata pelajaran PAI, ada murid yang punya basic keagamaan bagus, ada murid yang biasa-biasa saja. Belum lagi jika harus menghadapi murid dengan problem yang mereka bawa dari masa lalunya.
Selain menghadapi murid dengan segala dinamikanya, guru juga dituntut aktif merespons beragam laporan dan ekspektasi orang tua. Tidak jarang, keterlibatan orang tua memiliki porsi besar dalam proses pembelajaran murid di sekolah. Ada tipikal orang tua yang sami’na wa atho’na (mengikuti) saja apapun kebijakan sekolah. Ada orang tua yang komunikatif dan suportif kegiatan sekolah, tetapi tidak sedikit pula yang menaruh ekspektasi tinggi. Situasi seperti ini membuat guru harus pandai menjaga keseimbangan: menghargai aspirasi orang tua, sekaligus menyesuaikan kebutuhan murid di kelas.
Pada momen tertentu lelah dan letihnya seorang guru terasa begitu kompleks. Tidak hanya tentang mengorbankan tenaga, melainkan tentang hati dan pikiran yang terus diuji. Menghadapi murid yang heterogen menuntut guru untuk fleksibel, toleran, sabar, adil, dan pandai-pandai memposisikan diri. Di balik semua tantangan itu tersimpan sebuah pertanyaan reflektif: sejauh mana kita benar-benar menjalani sekaligus mendalami peran sebagai guru?
Menjalani peran sebagai guru berarti menerima segala dinamika yang ada, baik dan buruknya serta senang dan susahnya. Seperti berlayar dengan sampan, guru harus siap menghadapi badai dunia pendidikan. Mengelola emosi agar tetap tenang meski murid riuh ramai tak beraturan. Menghadirkan semangat saat murid mengantuk di jam akhir pelajaran. Ada saat guru menjadi orang tua yang menerima aduan berbagai masalah pribadi murid. Ada saat guru menjadi sahabat yang menerima curhatan asmara murid. Di saat yang sama guru tetap menjadi penegak hukum jika terjadi pelanggaran tata tertib oleh murid. Namun, justru di sanalah peran itu menemukan maknanya: guru belajar untuk hadir, tidak sekadar menghadirkan fisik, melainkan menghadirkan hati.
Peran ini menuntut kita untuk terus mengasah diri, menerima bahwa kesalahan dan masalah adalah bagian dari proses, serta menyadari bahwa setiap murid adalah cermin yang memantulkan siapa sebenarnya kita di hadapan mereka.
Mendalami peran sebagai guru berarti melampaui rutinitas mengajar. Ia mengajak kita merenungi makna di balik setiap interaksi, menanyakan kembali tujuan dari setiap langkah, dan menumbuhkan keikhlasan dalam setiap usaha. Dari sana lahir rasa syukur bahwa menjadi guru bukan hanya profesi, melainkan jalan pengabdian. Saat peran ini didalami dengan hati yang jernih dan ikhlas, kita menemukan bahwa mendidik bukan semata memberi ilmu, melainkan juga menumbuhkan harapan, membangun karakter, dan menyalakan cahaya kecil yang bisa menerangi perjalanan murid-murid kita di masa depan. Sebuah kebahagian tersendiri bagi kita saat mendengar murid diterima di kampus favorit atau mengetahui murid menjadi orang hebat di kemudian hari.
Teringat pada sabda nabi:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.
(HR. Bukhari)
Karena Al-Qur’an adalah sumber ilmu, maka secara umum hadis tersebut juga bisa dimaknai:
Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang belajar ilmu dan mengajarkannya
Belajar matematika dan mengajarkannya
Belajar biologi dan mengajarkannya
Belajar geografi dan mengajarkannya
Belajar sejarah dan mengajarkannya
Belajar olah raga dan mengajarkannya
Belajar seni budaya dan mengajarkannya
Belajar agama dan mengajarkannya.
Pada akhirnya, rasa nyaman atau tidak nyaman dalam profesi ini sangat bergantung pada cara kita memandangnya. Jika mengajar hanya dipahami sebatas rutinitas kerja untuk memperoleh gaji, maka lelahnya akan terasa lebih berat. Namun, jika dijalani dengan kesadaran mendalami peran sebagai pendidik, setiap tantangan justru menjadi bagian dari proses pendewasaan diri. Mindset inilah yang menuntut guru untuk tidak sekadar bertahan, tetapi benar-benar menemukan makna di balik kewajiban mendidik.
Tri Adi Nurhadi, S.Pd. – Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam, SMA Islam Al Azhar 14 Semarang

