Sastra Piwulang di Tangan Generasi Digital: Ketika Kearifan Lokal Menjadi Pesan Visual
Oleh: Guntari Setyo Eskanuanti, S. Pd., Gr.

Nulada laku utama
Tumrape wong tanah Jawi
Wong agung ing Ngeksiganda
Panembahan Senopati
Kapati amarsudi
Sudane hawa lan nepsu
Pinesu tapa brata
Tanapi ing siyang ratri
Amemangun karyenak tyasing sasama
Bait-bait pada teks sastra piwulang Serat Wedhatama pupuh Sinom karya K.G.P.A.A. Mangkunegara IV belum begitu dikenal oleh murid Generasi Z. Beruntungnya, pada mata pelajaran bahasa Jawa ada materi sastra piwulang yang harus diajarkan kepada murid SMA. Sastra piwulang merupakan karya sastra Jawa klasik yang di dalamnya berisi ajaran moral, pendidikan karakter, dan tuntunan hidup. Mengajarkan karya sastra Jawa klasik kepada murid SMA saat ini tidaklah mudah, perlu inovasi-inovasi pembelajaran yang harus diterapkan. Maka dari itu, pembelajaran bahasa Jawa pada materi sastra piwulang dilakukan dengan menyesuaikan karakteristik Generasi Z yaitu generasi yang lahir di era digital dan merupakan penduduk asli dunia digital yang hidupnya lebih sering di media sosial.
Di media sosial, murid lebih sering berhenti pada gambar daripada membaca paragraf panjang. Sebuah poster yang menarik mampu mencuri perhatian dalam hitungan detik, sedangkan sebuah teks sering kali dilewati tanpa dibaca sampai selesai. Dalam pembelajaran bahasa Jawa, bukan sekadar meminta murid membaca dan menjelaskan isi teks, pembelajaran diarahkan pada sesuatu yang lebih bermakna yakni menemukan pesan kehidupan dalam karya sastra Jawa, kemudian menyebarkannya kembali melalui poster digital yang dibuat sendiri oleh para murid.
Sastra yang Tidak Berhenti di Buku
Banyak murid menganggap karya sastra lama sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan mereka. Padahal, jika dicermati lebih dalam, persoalan yang dibahas dalam karya sastra Jawa klasik ternyata masih sangat dekat dengan kehidupan remaja masa kini.
Dalam salah satu bait Serat Wedhatama pupuh Sinom terdapat ajaran agar manusia mampu mengendalikan hawa nafsu, mengurangi sifat buruk, serta berusaha membahagiakan sesama. Nilai tersebut terasa sangat relevan di tengah kehidupan digital yang sering memancing emosi, persaingan sosial, bahkan perilaku saling menjatuhkan.
Murid tidak hanya diminta memahami makna setiap bait. Mereka juga diajak mendiskusikan bagaimana pesan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika membahas pentingnya mengendalikan hawa nafsu, misalnya, murid menghubungkannya dengan kemampuan mengendalikan diri saat menggunakan media sosial. Ketika membahas ajaran menghormati sesama manusia, mereka mengaitkannya dengan budaya menghargai teman, guru, dan orang tua. Ketika membahas pentingnya mengasah budi pekerti, mereka menghubungkannya dengan kebiasaan menjaga tutur kata di dunia nyata maupun dunia maya. Pada tahap ini sastra tidak lagi dipahami sebagai kumpulan kata-kata kuno, tetapi sebagai cermin kehidupan yang terus relevan sepanjang zaman.
Dari Pitutur Luhur Menjadi Poster
Hal yang paling menarik dari pembelajaran ini adalah ketika murid diminta mengubah isi kandungan Serat Wedhatama pupuh Sinom menjadi poster digital. Murid bekerja dalam kelompok untuk menganalisis bait yang telah ditentukan. Setelah menemukan isi kandungan dan pitutur luhur yang terkandung di dalamnya, mereka mulai memikirkan cara menyampaikan pesan tersebut kepada orang lain melalui media visual. Sebagian murid menggambarkan pentingnya pengendalian diri melalui ilustrasi seseorang yang mampu menahan amarah. Sebagian lainnya menggambarkan pentingnya menghormati sesama melalui ilustrasi persahabatan dan kepedulian sosial. Ada pula yang menampilkan ajaran religius dalam bentuk ilustrasi remaja yang tekun beribadah dan menjaga akhlak.
Proses desain dilakukan melalui kolaborasi. Murid berkonsultasi dengan teman dari kelas lain yang memiliki kemampuan desain grafis lebih baik. Dari sinilah lahir pengalaman belajar yang tidak hanya mengembangkan pemahaman sastra, tetapi juga komunikasi, kerja sama, kreativitas, dan kemampuan memecahkan masalah.
Ketika Sastra Bertemu Literasi Visual
Selama ini sastra sering dianggap identik dengan membaca dan menulis. Namun dunia pendidikan abad ke-21 menuntut kemampuan yang lebih luas. Peserta didik perlu mampu membaca gambar, memahami simbol visual, dan mengomunikasikan gagasan melalui berbagai media.
Proyek poster yang dilakukan murid SMA ini menunjukkan bahwa sastra Jawa dapat menjadi ruang pertemuan antara literasi budaya dan literasi digital. Murid tidak hanya belajar memahami teks, tetapi juga belajar menerjemahkan makna menjadi visual. Mereka harus memilih warna yang tepat, menentukan ilustrasi yang sesuai, menyusun slogan yang menarik, dan memastikan pesan moral yang ingin disampaikan dapat dipahami oleh orang lain. Proses tersebut sesungguhnya merupakan bentuk berpikir tingkat tinggi karena murid tidak sekadar mengingat isi teks, tetapi menginterpretasikan dan mengonstruksi kembali makna yang diperoleh.
Macapat Baru di Era Digital
Jika direnungkan lebih jauh, proyek poster ini menghadirkan fenomena menarik. Pada masa lalu, masyarakat Jawa menyebarkan nilai-nilai kehidupan melalui tembang macapat yang dinyanyikan secara turun-temurun. Hari ini, nilai-nilai yang sama dapat disebarkan melalui poster digital yang beredar di layar telepon genggam.
Jika dahulu pitutur luhur berpindah dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui suara dan tembang, kini ia berpindah melalui ilustrasi, tipografi, dan desain visual. Dengan kata lain, poster digital dapat dipandang sebagai “macapat baru” bagi generasi masa kini. Media boleh berubah, tetapi nilai yang diwariskan tetap sama.
Menjaga Budaya dengan Cara yang Berbeda
Pelestarian budaya sering kali dipahami sebagai upaya mempertahankan bentuk lama apa adanya. Padahal, budaya yang hidup adalah budaya yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati dirinya.
Pembelajaran sastra piwulang melalui poster digital menunjukkan bahwa budaya Jawa dapat tetap hadir dalam kehidupan generasi muda tanpa harus terasa kuno atau membosankan. Melalui kegiatan ini, murid tidak hanya belajar tentang Serat Wedhatama. Mereka belajar memahami diri sendiri, memahami orang lain, dan memahami bagaimana nilai-nilai luhur dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Alhasil, tujuan pembelajaran sastra bukanlah sekadar membuat murid mampu menjawab soal ujian. Tujuan yang lebih penting adalah menjadikan mereka manusia yang mampu mengambil hikmah dari setiap ajaran kehidupan. Dan mungkin, di tengah derasnya arus informasi digital saat ini, itulah makna paling penting dari keberadaan sastra piwulang: mengingatkan manusia untuk tetap memiliki arah, nilai, dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan.
Guntari Setyo Eskanuanti, S. Pd., Gr.- Guru Bahasa Jawa SMA Islam Al AZHAR 14 Semarang

