Membangun Self-Efficacy Siswa dalam Kimia: Kunci dari Pembelajaran Bermakna

Bagikan

Membangun Self-Efficacy Siswa dalam Kimia: Kunci dari Pembelajaran Bermakna

Samhasari Desthi M

Pelajaran belum dimulai, beberapa siswa sudah merasa cemas. Bukan karena belum belajar, tetepi karena mereka yakin tidak akan bisa. Di kelas kimia, rasa takut sering hadir lebih dulu daripada rasa ingin tahu.

Kimia masih sering dipersepsikan sebagai mata pelajaran yang “menakutkan”-sulit, abstrak, dan sarat dengan simbol serta perhitungan. Fenomena ini tidak sekadar berkaitan dengan kompleksitas konsep, tetapi juga cara materi disajikan di kelas. Seperti diungkapkan oleh Johnstone (1991), kesulitan utama dalam mempelajari kimia terletak pada kebutuhan untuk memahami tiga level representasi sekaligus, yaitu makroskopik, mikroskopik, dan simbolik. Ketika ketiganya tidak terintegrasi dengan baik dalam pembelajaran, murid cenderung mengalami kebingungan konseptual yang berujung pada kecemasan akademik. Di banyak kelas, siswa tidak hanya kesulitan memahami konsep, tetapi juga telah lebih dulu merasa “tidak mampu” bahkan sebelum mencoba menyelesaikan soal. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan pembelajaran kimia tidak semata-mata hanya persoalan kognitif, melainkan juga afektif—khususnya terkait self-efficacy dan chemistry anxiety.

Dalam konteks pendidikan abad ke-21, keberhasilan belajar tidak hanya ditentukan oleh penguasaan konsep, tetapi juga oleh keyakinan siswa terhadap kemampuannya sendiri. Keyakinan diri siswa menjadi fondasi penting bagi keberhasilan belajar. Self-efficacy terbukti berperan dalam menentukan bagaimana siswa berpikir, merasa, dan bertindak saat menghadapi tugas akademi. Dalam konteks sains, termasuk kimia, siswa dengan self-efficacy tinggi cenderung menunjukkan performa akademik yang lebih baik, mereka lebih gigih, tidak mudah menyerah saat mengalami kesulitan, dan lebih terbuka terhadap tantangan belajar, serta memiliki keterlibatan belajar yang lebih tinggi baik di kelas maupun di laboratorium. (Usher & Pajares, 2008; van Aalderen-Smeets et al., 2019).

Sebaliknya, self-efficacy yang rendah seringkali berujung pada penghindaran tugas dan meningkatnya kecemasan belajar (Putwain et al., 2020). Hal ini dapat dengan mudah kita temui dalam keseharian di kelas, misalnya ketika ada siswa yang berulang kali meminta izin ke kamar mandi saat pembelajaran berlangsung, tampak menunda-nunda pengerjaan tugas, atau sering terlambat mengumpulkan tugas. Perilaku-perilaku tersebut bukan semata-mata bentuk ketidakdisiplinan, melainkan dapat menjadi indikator adanya keraguan terhadap kemampuan diri sendiri dalam memahami dan menyelesaikan tuntutan belajar, yang pada akhirnya memperkuat siklus kecemasan dalam pembelajaran.

Self-Efficacy dalam Pembelajaran Kimia

Self-efficacy merujuk pada keyakinan individu terhadap kemampuannya dalam menyelesaikan tugas tertentu (Bandura, 1997). Dalam pembelajaran kimia, hal ini tercermin dari bagaimana siswa memandang dirinya ketika menghadapi konsep-konsep kimia seperti kesetimbangan kimia, stoikiometri, atau asam-basa. Disamping itu self-efficacy juga memengaruhi bagaimana siswa merespons soal kompleks yang mengasah kemampuan berpikir kritisnya serta terkait eksperimen laboratorium.

Penting untuk membedakan antara “tidak mampu” dan “merasa tidak mampu”. Dua siswa dengan kemampuan kognitif yang sama dapat menunjukkan performa yang sangat berbeda hanya karena perbedaan tingkat self-efficacy. Penelitian menunjukkan bahwa self-efficacy berkontribusi signifikan terhadap prestasi akademik, ketekunan, serta strategi belajar yang digunakan siswa (Zimmerman, 2000). Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa self-efficacy berkorelasi positif dengan prestasi belajar sains dan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS) (Lau & Roeser, 2022). Siswa dengan self-efficacy tinggi lebih mampu menggunakan strategi metakognitif, bertahan dalam menyelesaikan soal non-rutin, dan mengelola kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.

Tantangan Nyata di Kelas Kimia

Mengapa Kimia Rentan Menurunkan Self-Efficacy? Karakteristik ilmu kimia itu sendiri menjadi salah satu penyebab utama. Perpindahan antar level representasi kimia yang meliputi makroskopik (fenomena nyata), mikroskopik (partikel), dan simbolik (rumus/reaksi) ini seringkali menimbulkan beban kognitif yang tinggi bagi siswa. Selain itu, praktik pembelajaran yang terlalu berorientasi pada hafalan dan prosedur matematis tanpa pemahaman konseptual turut memperburuk keadaan. Siswa sering dihadapkan pada soal-soal yang langsung kompleks tanpa tahapan yang memadai. Akibatnya, kegagalan berulang membentuk keyakinan negatif: “kimia memang bukan untuk saya”.

Kondisi riil yang terjadi saat siswa melakukan praktikum di laboratorium, misalnya tidak sedikit diantara mereka yang mengalami ketakutan saat menggunakan bahan kimia. Misalnya siswa gemetar atau ragu-ragu saat akan mengambil larutan asam sulfat (H2SO4) atau asam nitrat (HNO3). Siswa terlihat menghindari praktikum atau meminta teman kelompok untuk melakukan semua penanganan bahan kimia berbahaya karena khawatir terkena cipratan yang menyebabkan kulit mengalami luka bakar atau iritasi. Ada juga siswa yang takut menggunakan alat gelas, takut memecahkan buret atau labu ukur yang mahal, sehingga pengerjaan menjadi lambat dan kaku. Adanya kecemasan ini berdampak terhadap self-efficacy siswa. Kondisi ini diperkuat oleh temuan bahwa kecemasan terhadap kimia (chemistry anxiety) berkorelasi negatif dengan performa akademik dan kepercayaan diri siswa (Mallow, 2006). Dengan kata lain, semakin tinggi kecemasan, semakin rendah self-efficacy yang dimiliki.

Selain tantangan dalam pembelajaran yang juga harus menjadi perhatian adalah dalam proses asesmen. Self-efficacy berkorelasi positif dengan prestasi belajar siswa. Penelitian oleh Sari et al. (2021) dan Rahmawati & Ridwan (2022) menunjukkan bahwa banyak siswa SMA di Indonesia memiliki self-efficacy sedang hingga rendah dalam kimia, terutama pada topik abstrak seperti kesetimbangan dan asam-basa. Kondisi ini berdampak langsung pada performa mereka dalam asesmen berbasis HOTS. Berbagai studi juga menunjukkan bahwa siswa sering mengalami kecemasan saat menghadapi soal kontekstual, kesulitan mengintegrasikan konsep dengan representasi simbolik, rendahnya self-efficacy saat menghadapi soal non-rutin.

Sumber Self-Efficacy dalam Pembelajaran Kimia

Berdasarkan teori Bandura (1997) dan penelitian lain yang telah dilakukan diketahui bahwa sumber self-efficacy diantaranya:

  1. Mastery Experience (pengalaman keberhasilan)

Studi terbaru menegaskan bahwa keberhasilan bertahap dalam menyelesaikan tugas kimia meningkatkan self-efficacy secara signifikan (Chen et al., 2022). Dalam kimia, ini dapat diwujudkan melalui soal bertahap yang memungkinkan siswa merasakan keberhasilan kecil.

  1. Vicarious Experience (pengalaman sosial)

Pembelajaran kolaboratif terbukti efektif dalam meningkatkan kepercayaan diri siswa melalui observasi keberhasilan teman sebaya (Lou et al., 2020).

  1. Verbal Persuasion (dukungan verbal)

Umpan balik guru yang spesifik dan berorientasi proses meningkatkan motivasi intrinsik siswa (Hattie & Timperley, 2007; diperkuat oleh studi terbaru dalam konteks sains oleh Wisniewski et al., 2020).

  1. Physiological State (kondisi emosional)

Lingkungan belajar yang mendukung dapat menurunkan kecemasan dan meningkatkan kesiapan belajar (Putwain et al., 2020).

Strategi Guru Kimia untuk Membangun Self-Efficacy

Guru berperan krusial dalam meningkatkan self-efficacy (keyakinan diri) siswa. Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk mewujudkan hal tersebut, diantaranya:

  1. Mendesain Pembelajaran Bertahap (Scaffolding)

Guru perlu menyusun aktivitas belajar dari yang sederhana menuju kompleks. Contoh penerapananya dalam materi ikatan kimia, pada tahap dasar (sederhana) siswa diajak untuk mengamati kristal garam dan gula (bentuk fisiknya). Selanjutnya pada tahap menengah, guru dapat menjelaskan perbedaan ikatan ionik dan kovalen menggunakan model molekul. Tahap menengah merupakan jembatan antara yang terlihat (makro) dan yang tidak terlihat (mikro/atomik), menggunakan bantuan visual atau scaffolding aktif.

Pada tahap ini, guru dapat menggunakan Model 3D untuk membangun model molekul menggunakan molymod atau bahan sederhana (plastisin) untuk memahami struktur atom dan ikatan kimia atau menggunakan simulasi dan animasi dengan media interaktif (seperti VisChem, molView, Phet) untuk memvisualisasikan partikel yang bergerak. Pada tahap kompleks dimana siswa dituntut untuk berpikir kritis, menghubungkan antar konsep, dan memecahkan masalah dapat dilakukan dengan cara mengajak siswa menganalisis titik leleh dan daya hantar listrik berbagai senyawa untuk menyimpulkan jenis ikatannya. Dengan urutan ini, siswa bertransformasi dari sekadar mengamati menjadi memahami, memodelkan, dan menganalisis konsep kimia. Keberhasilan kecil yang dialami siswa secara konsisten akan membangun kepercayaan diri mereka.

  1. Mengintegrasikan Soal HOTS secara Proporsional

Soal HOTS penting untuk melatih berpikir kritis, tetapi perlu diberikan secara bertahap dan kontekstual. Tantangan yang terlalu tinggi tanpa dukungan justru dapat menurunkan self-efficacy. Asesmen seharusnya tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran. Asesmen yang dirancang secara bertahap, transparan, dan memberikan kesempatan refleksi dapat memperkuat self-efficacy siswa. Asesmen tidak menjadi sumber kecemasan, melainkan peluang untuk berkembang.

  1. Memberikan Umpan Balik yang Konstruktif

Umpan balik sebaiknya tidak hanya berfokus pada benar atau salah, tetapi juga pada proses berpikir siswa. Umpan balik hendaknya membimbing siswa untuk memahami konsep dasar yang abstrak dan menerapkannya dalam perhitungan maupun praktikum

Bahasa yang digunakan guru memiliki dampak psikologis yang besar. Misalnya siswa melakukan kesalahan saat menghitung Molaritas, maka sebisa mungkin kita menghindari hanya menyalahkan jawaban akhir, namun kitab isa tunjukkan langkah perhitungannya yang kurang tepat.

  1. Mengaitkan Kimia dengan Kehidupan Nyata

Pembelajaran yang kontekstual membantu siswa melihat relevansi kimia dalam kehidupan sehari-hari, sehingga meningkatkan motivasi dan rasa mampu. Misalnya dalam konteks pembelajaran reaksi esterifikasi dengan karakteristik materi yang abstrak memperkuat potensi munculnya chemistry anxiety dan menurunkan self-efficacy. Maka pembelajaran dapat dirancang berbasis Chemo-Entrepreneurship (CEP) dengan mengintegrasikan eksperimen pembuatan parfum dan kemitraan dengan Pengusaha Parfum lokal. Pendekatan ini tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga afektif dan kontekstual. Alur pembelajarannya seperti gambar berikut.

 

Contoh lain yakni pada topik sifat koligatif larutan materi penurunan titik beku (ΔTf). Sifat-sifat koligatif larutan adalah sifat-sifat larutan yang tidak bergantung pada jenis zat terlarut tetapi hanya bergantung pada konsentrasi partikelnya.  Penurunan titik beku larutan ini bisa kita manfaatkan dalam pembuatan es putar. Dalam praktikum, campuran es batu dan garam kasar ditempatkan di sekeliling kaleng berisi adonan santan/susu. Hal ini membuktikan bahwa garam dapat memodifikasi sifat fisik air, memungkinkan proses pembekuan terjadi di luar ruang pembeku (freezer). Siswa dapat mempelajari peran garam (NaCl) sebagai zat terlarut yang menurunkan titik beku campuran es-air melalui pengamatan langsung.

  1. Menciptakan Lingkungan Belajar yang Aman

Kelas yang menghargai proses, bukan hanya hasil akhir, akan membuat siswa lebih berani mencoba dan tidak takut melakukan kesalahan. Contohnya ketika guru memberikan soal kimia yang menantang tentang perhitungan pH larutan Buffer lalu mengajak siswa mempresentasikan proses berpikirnya di depan kelas. Dalam suasana kelas yang aman, guru tidak langsung menyoroti jawaban benar atau salah, tetapi mengapresiasi langkah-langkah yang sudah dilakukan siswa, seperti cara mereka mengidentifikasi konsep atau menyusun persamaan reaksi. Ketika terjadi kesalahan, guru menanggapinya dengan pertanyaan pemantik seperti “Bagian mana yang menurutmu masih bisa diperbaiki?” alih-alih langsung mengoreksi secara menghakimi.

Membangun self-efficacy siswa dalam pembelajaran kimia bukanlah tugas tambahan, melainkan inti dari proses pembelajaran itu sendiri. Ketika siswa percaya bahwa mereka mampu, mereka akan lebih berani mencoba, lebih tahan menghadapi kesulitan, dan lebih terbuka terhadap pemahaman yang mendalam.

Pada akhirnya, pembelajaran kimia yang bermakna tidak hanya ditandai oleh penguasaan konsep, tetapi juga oleh tumbuhnya keyakinan dalam diri siswa bahwa mereka mampu memahami dunia melalui kimia. Mungkin yang perlu diubah bukanlah kompleksitas kimianya, melainkan cara kita menumbuhkan kepercayaan diri siswa dalam mempelajarinya.

DAFTAR PUSTAKA

Bandura, A. (1997). Self-efficacy: The exercise of control.

Chen, S., et al. (2022). The role of mastery experience in STEM learning. Journal of Educational Psychology.

Hattie, J., & Timperley, H. (2007). The power of feedback. Review of Educational Research, 77(1), 81–112.

Johnstone, A.H. (1991). Why is Science Difficult to Learn? Things are Seldom What They Seem. Journal of Computer Assisted Learning, 7, hlm. 75– 83.

Lau, N., & Roeser, R. (2022). Self-efficacy and academic engagement. Educational Psychology Review.

Mallow, J. V. (2006). Science anxiety: Research and action. In J. Mintzes & W. Leonard (Eds.), Handbook of College Science Teaching (pp. 3–14). Arlington: NSTA Press.

Putwain, D. W., et al. (2020). Academic anxiety and self-efficacy. Contemporary Educational Psychology.

Rahmawati, Y., & Ridwan, A. (2022). Students’ self-efficacy in chemistry learning in Indonesia. Jurnal Pendidikan IPA Indonesia.

Sari, D. P., et al. (2021). Analisis self-efficacy siswa pada pembelajaran kimia SMA. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia.

van Aalderen-Smeets, S., et al. (2019). Teachers’ self-efficacy in science education. Journal of Research in Science Teaching.

Wisniewski, B., et al. (2020). The power of feedback revisited. Educational Psychology Review.

Zimmerman, B. J. (2000). Self-efficacy: An essential motive to learn. Contemporary Educational Psychology, 25(1), 82–91.

 

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *