Belajar Pendikar pada Ki Hadjar
Oleh Octavian Galih Pambuko, S.Pd.

sumber gambar: https://www.kompas.com/stori/read/2021/04/15/141350179/ki-hadjar-dewantara-kehidupan-kiprah-dan-semboyannya?page=all
“Pada waktu itu, hubungan antara guru dan murid erat sekali. Baru nanti bisa terbentuk karakter yang baik itu. Yang jelas aja ya, apabila ada murid yang sakit, gurunya datang menengok. Sekarang apa ada?, muridnya sakit, gurunya menengok?, gurunya ra kober (1).”
Kalimat di atas disampaikan oleh Ibu Mudjono dalam sebuah wawancara projek film dokumenter catatan akhir kuliah di Yogyakarta. Film yang mulai diproduksi pada akhir tahun 2013 mengangkat tema pendidikan karakter di dalam lingkungan kehidupan perkuliahan. Pada saat itu penulis merupakan seorang mahasiswa jurusan pendidikan sejarah yang linier dengan profesi guru. Sebuah film yang diproduksi dengan tujuan mendapatkan gambaran yang beragam tentang pendidikan karakter dalam dunia pendidikan.
Ibu Mudjono bernama lengkap Nyi Moedjono Probo Pranowo, S.H. Beliau merupakan murid dari Ki Hadjar Dewantara masa bersekolah di perguruan Taman Siswa. Beliau sempat menjabat sebagai Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Yogyakarta periode 1963-1971 sekaligus Dekan FIS IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) periode 1964-1966. Pengabdian serta dedikasi beliau terhadap dunia pendidikan sangat besar sehingga penulis bersyukur dapat bertemu dan belajar banyak tentang mendidik murid-murid yang berdasarkan pendidikan karakter.
Pendidikan karakter telah sejak lama dihadirkan dan digalakkan sebagai salah satu program pembelajaran di Indonesia. Kehadiran pendidikan karakter dimulai sejak era Sumpah Pemuda tahun 1928, era Kemerdekaan dan pada dekade 2010-an. Pendidikan karakter digalakkan sebagai gerakan nasional pada awal 2010 dengan tujuan menyelesaikan permasalahan kekerasan di dalam dunia pendidikan, khususnya di tingkat perguruan tinggi. Hingga ramai dikenal istilah pendikar sebagai akronim dari pendidikan karakter.
Di masa kekinian, pendidikan karakter masih menjadi perhatian penting oleh para pimpinan kepala daerah. Beberapa strategi diterapkan melalui kebijakan yang diambil oleh para Kepala Daerah. Di Jawa Barat, bapak Dedi Mulyadi menaruh perhatian khusus terhadap perkembangan sosial generasi muda di wilayahnya. Pak Dedi mengambil kebijakan pendidikan karakter ala militer yang juga diikuti oleh Gubernur Bengkulu, bapak Helmi Hasan. Sedangkan di Jakarta, bapak Pramono Anung selaku Gubernur mengambil kebijakan pembinaan anak-anak yang memiliki pelanggaran dengan belajar di perpustakaan.
Pendidikan Among (2)
Pendidikan Indonesia seyogyanya tidak perlu banyak melihat kepada dunia luar, sebab sejatinya bangsa kita telah memiliki dasar pendidikan yang amat baik melalui buah pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Sistem pengajaran dan pendidikan among yang digagas oleh beliau dapat menjadi matahari bagi sistem pendidikan Indonesia. Sistem among merupakan sistem pengajaran dan pendidikan yang tidak akan mengenal istilah kadaluwarsa atau tidak cocok untuk diberlakukan di masa kini. Sistem among senantiasa relevan diberlakukan, sebab system tersebut lahir dari rahim pemikiran yang merdeka, obat bagi luka yang diberikan kolonial, jawaban atas pertanyaan dunia akan keberadaan bangsa Indonesia.
Pendidikan among ala Ki Hadjar memberikan ruang serta wewenang bagi guru dalam mendidik murid. Tiga pedoman yang terdiri dari Ing Ngarso sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani dapat menjadi tongkat bagi guru dalam melangkah, menjadi cahaya dalam membimbing murid, dapat menjadi payung kala derai masalah menghambat proses pendidikan. Ing Ngarso sung Tulodho yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti posisi guru ketika di depan adalah memberikan contoh, baik itu di dalam proses pembelajaran maupun pendidikan kehidupan. Ing Madyo Mangun Karso yang memiliki arti, posisi guru ketika di tengah-tengah murid, senantiasa membangun gairah belajar murid agar semangat, berani, percaya diri dan tidak takut untuk salah sebab sang guru akan siap membantu dan meluruskan. Tut Wuri Handayani memiliki arti bahwa ketika berada di posisi belakang murid, guru memberikan dukungan secara moril agar sang murid selalu bersemangat belajar dan memiliki kemandirian dalam mencapai tujuan yang dicita-citakan.
Pendidikan Karakter ala Ki hadjar Dewantara
Dalam hal pendidikan karakter, Ki Hadjar juga memiliki warisan pedoman pendidikan karakter bagi murid-muridnya. Enam pilar karakter bangsa yang digagas oleh Ki Hadjar berdasar nilai-nilai luhur bangsa Indonesia, yaitu memberi contoh, pembiasaan, pengajaran, perintah-paksaan-hukuman, laku serta pengalaman batin yang terdiri dari mengerti-merasa-melakukan. Jika kita memaknai dan praktikkan satu per satu dapat mejadi sebuah langkah dalam membetuk karakter murid-murid yang sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
Pilar pertama, memberi contoh bahwa guru mesti selalu memberi contoh atas segala yang dilisankan olehnya. Jangan sampai sang murid memberikan penilaian kepada gurunya, jika sang guru hanya bisa memerintah atau menasehati tanpa memberikan contoh di dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, pembiasaan yang dimaksud adalah guru senantiasa mengajak murid membiasakan diri dengan praktik lisan dan perilaku yang baik di dalam kehidupan sehari-hari, membiasakan adab yang baik di manapun mereka berada. Ketiga, pengajaran bahwa sudah hal mutlak bagi guru untuk memberikan pengajaran ilmu pengetahuan kepada murid-murid agar memiliki wawasan dan ilmu pengetahuan yang luas. Keempat, perintah-paksaan-hukuman yang merupakan alat bagi guru dalam mengendalikan adab perilaku murid di sekolah maupun di luar lingkungan sekolah. Kelima adalah laku, yang memiliki arti bahwa sebagai seorang guru harus memiliki niat yang tulus di dalam melakukan tugas sebagai seorang pendidik, bahwa pilihan sebagai seorang guru merupakan sebuah pilihan hidup yang diniatkan dan diamalkan secara tulus secara lahiriah maupun batiniah. Dan yang keenam adalah memberikan pengalaman batin kepada murid melalui proses mengerti, merasa dan melakukan. Prinsip yang keenam ini dimaksudkan agar murid-murid dengan bimbingan sang guru, memiliki hati yang suci, sehingga memiliki rasa simpati dan empati yang tulus terhadap sesama. Penulis mengamini yang diingatkan oleh Ibu Mudjono dalam sebuah wawancara 12 tahun silam bahwa di masa kini pun praktik baik dari ajaran Ki Hadjar masihlah sesuai untuk diterapkan.
(1) kober (bahasa Jawa) yang memiliki arti sempat (bahasa Indonesia)
(2) among (bahasa Jawa) yang berasal dari kata pamomong, dalam bahasa Indonesia berarti mengasuh, menjaga
Octavian Galih Pambuko, S.Pd.- Guru Sejarah Indonesia SMA Islam Al Azhar 14 Semarang

