Integrasi Akal dan Iman dalam Beragama dengan memaknai Al-Qur’an Shalih li Kulli Zaman wal Makan
Oleh Mochammad Yusuf Alif Chabibi, S.Ag

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Pencipta Alam yang menciptakan segala sesuatu baik yang telah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Tuhan yang menguasai seluruh penjuru semesta, yang menjadikan semua makhluk dari ketiadaan, yang mengatur dan menakdirkan sedemikian rupa hingga tercapailah potensi setiap benda menuju aktualitasnya.
Sholawat dan salam kita panjatkan kepada Nabi Muhammad SAW, sayyidul kholqi, khoyrul basyar, pelengkap bangunan batu final ending kenabian, uswatun khasanah bagi umat Islam dan rahmat bagi seluruh alam. Semoga kelak kita semua dimampukan untuk meraih syafa’atnya dan masuk surga bersama-sama dengan beliau SAW. Aamiin…
Allah telah memberikan kepada manusia sesuatu yang paling berharga di dunia ini. Sesuatu yang jauh melampaui akal, hati dan nurani setiap insan. Sesuatu yang dapat menyingkap segala sesuatu bahkan realitas semesta dan sesuatu itu pula yang dapat menyibakkan tirai ghaib yang bernama ketidaktahuan. Bukan jabatan, bukan kemampuan tapi ia adalah Al-Qur’an. Membicarakan Al-Qur’an akan terasa kurang jika kita tidak mengetahui esensi diturunkannya kitab suci tersebut pada kita, umat Islam. Al-Qur’an telah dijadikan pedoman dan tuntunan hidup bagi umat Islam sepanjang zaman dimana tidak hanya sebagai bacaan tapi juga landasan beretika, bermoral dan bernalar kritis bagi mereka yang mampu mengolahnya dengan baik.
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْـكِتٰبَ تِبْيَانًا لِّـكُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ
Artinya: “Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).” (An-Nahl ayat 89)
Namun esensi diturunkannya Al-Qur’an tak hanya sebatas itu, tapi justru Al-Qur’an adalah jawaban dari segala permasalahan kehidupan. Ibarat sebuah buku, ia adalah intisari segala macam ilmu pengetahuan yang telah Allah berikan untuk mengatasi berbagai macam problematikan keseharian. Meski demikian tidak serta merta ketika kita dapatkan suatu permasalahan khusus, kita temukan jawabannya secara mendetail dalam Al-Qur’an. Sebagaimana idiom yang sangat terkenal: “The Qur’an is not book of science, but a book of signs.” (Ataka, 2024) Ia bukan buku sains, bukan buku filsafat dan tak seperti buku akademik lainnya, ia adalah saripati dari sumber pengetahuan tertinggi. Menyikapi Al-Qur’an sama seperti kita melihat aturan dan petunjuk penggunaan alat, makanan / obat yang harus diikuti sesuai prosedur atau layaknya buku panduan yang memandu kita ke arah yang benar. Analoginya bak gerbong kereta yang harus tetap melaju di atas rel yang semestinya tanpa berpindah jalur sampai berhenti di tujuan akhirnya.
Al-Qur’an seringkali berbicara tentang aspek mendasar dalam diri manusia; makna dan tujuan hidup, dari mana semuanya berasal, kemana kita akan kembali dan apa atau siapa yang telah memulai semua ini. Pertanyaan-pertanyaan itu muncul bukan karena kebodohan atau kurangnya pengetahuan individu yang bersangkutan, ia adalah reaksi jiwa yang menggelora akibat krisis eksistensial pada diri manusia yang haus akan pencarian makna. Pertanyaan itu tak pernah terjawab secara pasti dan telah lama menjadi bahan perdebatan klasik para filsuf dalam dunia filsafat. Untuk itulah, Tuhan yang menciptakan semua ini, Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, yang mengetahui dzohir dan bathin segala sesuatu telah menurunkan ilmunya lewat Al-Qur’an yang disampaikan Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada manusia sehingga bisa menjawab segala kerisauan dan kegelisahan maupun pergolakan batin yang selama ini menghantuinya dalam hidup. (Syahputra, 2026)
Kaitannya dengan hal tersebut, Islam tidak pernah menuntut umatnya untuk langsung percaya tanpa bukti alias taklid buta. Para filsuf dan cendekiawan umat muslim zaman dulu memiliki kaidah dalam hal akidah sebagai berikut: (Nuruddin, 2025)
الْجَزْمُ الْمُطَابَقَة لِلْوَاقِع عَنْ دَلِيْلٍ
Artinya: “Keyakinan kuat yang sesuai dengan kenyataan dan didasari dengan bukti”
Beragam ayat telah menunjukkan pada kita bahwa bahwa umat muslim disuruh berpikir dahulu sebelum mengimani sesuatu. Berulang kali Al-Qur’an menegaskan dengan pertanyaan-pertanyaan retoris; اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ (apakah kamu tidak berpikir ?), اَفَلَا تَتَفَكَّرُوْنَ (apakah kamu tidak memikirkan ?), اَفَلَا تَتَذَكَّرُوْنَ (Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran ?) اَفَلَا تَسْمَعُوْنَ (apakah kamu tidak mendengar ?), اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ (apakah kamu tidak melihat ?), bahkan ayat pertama yang diturunkan berbunyi: اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ Fi’il amr (kata kerja perintah) berupa iqro’ disana yang berarti “bacalah” tidak sama dengan kata utslu (اُتْلُ) yang sama artinya “bacalah”. Jika utslu bermakna bacalah (segala macam yang tertulis, buku, kitab, dll) maka iqro’ lebih komprehensif dari itu. Secara makna, ia meliputi pembacaan literasi, memperhatikan alam semesta: قُلِ انْظُرُوْا مَا ذَا فِى السَّمٰوٰتِ (“Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di Bumi !” dalam Yunus ayat 101) bahkan mengamati diri sendiri: وَفِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ (“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Apakah kamu tidak memperhatikan ?” dalam Adz-Dzariyat ayat 21) yang kesemuaan fungsinya mengarah pada satu hal ‘membaca tanda-tanda-Nya’ sehingga berujung pada taslim (tunduk total, penyerahan hidup, berserah diri) pada kekuasan tertinggi, absolut, realitas mutlak yang bersifat transenden. Maka makna muslim adalah orang yang berserah diri, mengakui bahwa ada satu sosok atau eksistensi tunggal yang mencipta dan mengatur semuanya, penyebab utama dari segala hal yang tak terikat ruang dan waktu, yakni Tuhan. Pengakuan akan keberadaan-Nya merupakan kesimpulan logis dari logika yang waras sebab rasionalitas yang murni pasti berujung pada iman pada Dzat yang tak terbatas. (Syahputra, 2026)
Namun demikian, faktanya tidak semua muslim mempunyai pola pikir demikian. Sebagian muslim mengimani Allah sebagai Tuhan, Muhammad sebagai Nabi, dan aspek keimanan lainnya hanyalah sebagai dogma, doktrin dan warisan iman. Ia mengimani tanpa mempertanyakan apalagi tanpa pernah mengkritisnya. Sekilas bagus dan taat, namun akan mudah rapuh bila diterpa badai keraguan. Jika iman hanyalah kepercayaan tanpa perlu pembuktian, implikasinya iman kepada dewa dewi harusnya masuk akal karena banyak agama dan mitologi kuno yang meyakini hal itu. Tentu tidak demikian karena sebagaimana dalam kaidah sebelumnya, iman itu dibangun diatas bukti yang kuat bahkan harus sesuai fakta apalagi dalam Islam disertakan dengan dalil-dalil atau argumen-argumen pendukung.
Ironinya pandangan yang menyatakan bahwa iman cukup diyakini tanpa perlu dinyatakan ini justru selaras dengan pandangan atheistik yang mengatakan bahwa konsep keimanan yang dianut oleh agamawan tidak bisa dibuktikan secara rasional dan bersifat subjektif. (Ataka, 2024) Agaknya mindset demikian sudah cukup banyak menjamur di kalangan gen Z zaman sekarang sebab ia lebih rentan tergerus arus informasi dan terdistraksi algoritma dibanding generasi sebelumnya yakni kaum millenial yang meskipun banyak terpapar konten-konten medsos, mereka tetap meyakini pendiriannya yang telah lama kokoh dan terpatri kuat dalam sanubarinya.
Remaja sering diidentikkan sebagai fase peralihan dari kanak-kanak menuju dewasa. Oleh karena itu, tidak salah bila dikatakan bahwa pola pikir mereka masih labil, masih belum mengakar kuat, masih mudah menerima masukan, dan masih dapat dirubah oleh hal-hal eksternal. Oleh karena itu sebagai ahlul ‘ilm, seharusnya para pendidik dan pengajar agama tidak hanya memprioritaskan praktek perihal ‘apa’ dan ‘bagaimana’ tapi alasan ‘mengapa’ hal ini itu perlu dan harus diyakini dan ‘kenapa’ harus dilakukan. Semakin berkembang pola pemikiran seorang anak, semakin ia penasaran dan ingin tahu segala hal termasuk hal-hal paling fundamental; pokok-pokok keimanannya sendiri. Hasrat curiosity-nya semakin tidak terkendali hingga pada akhirnya ia berani menanyakan: “apakah selama ini aku meyakini kebenaran atau hanya membenarkan keyakinan ?” Ketika sebuah pertanyaan muncul pada seseorang yang belum mendapatkan jawaban yang memuaskan, pasti ia akan terus mencarinya baik secara otodidak maupun mempelajarinya dari seorang atau mereka yang ia kenal berilmu. Pencariannya ini bukan sekedar dilandasi ‘kepo’ atau rasa penasaran belaka, tapi pertanyaan tersebut mewakili seluruh kompleksitas masalah dalam hidupnya yang dapat membawanya pada keselamatan atau kebinasaan abadi. Fenomena ini bisa jadi lumrah dialami oleh sebagian besar anak muda ketika mereka mencoba menelusuri arti kehidupan. Mungkin bisa jadi ditemukan banyak anak muda yang tidak beribadah (misalnya shalat) sebenarnya lebih bukan karena malas, tapi karena adanya keraguan yang sudah lama terkumpul dan terpendam dalam dirinya. Maka peran pendamping seperti guru sangat dibutuhkan terkait ini sebab bila ia tidak diarahkan ke ‘jalan’ yang semestinya, sangat mungkin ia akan mengingkari apa yang selama ini ia pegang sebelum ia sendiri benar-benar memahami hakikat inti ajarannya.
Oleh karena itu, Islam hadir dengan argumen-argumen ilmiah, ajakan untuk berpikir secara logika, indikasi / isyarat sains yang bukan dalam rangka cocoklogi, juga prediksi-prediksi masa depan. Dalam beberapa kesempatan, Al-Qur’an bahkan menantang kepada mereka baik golongan manusia maupun jin untuk mendatangkan (membuat) kitab yang semisal Al-Qur’an (Al-Isro’ ayat 88), pun jika memang keberatan maka Al-Qur’an mempersilahkan membuat sepuluh surat saja (Hud ayat 13). Bahkan yang terakhir, sekiranya tidak mampu juga, Al-Qur’an memperbolehkan opsi paling ringan yakni membuat satu surat saja (Al-Baqoroh ayat 23 dan Yunus ayat 38). Kenyatannya mulai sejak zaman Nabi masih hidup sampai sekarang tiada satu orang pun yang dapat melakukannya. Hampir 15 abad tidak ada yang dapat menandingi Al-Qur’an baik dari segi keindahan sastra dan retorikanya, kedalaman maknanya, keselarasannya dengan realitas dan kekonsistensian logisnya. Mustahil hal yang demikian terlahir oleh seorang yang ummi (tidak bisa baca tulis), berasal dari daerah yang tandus, belum adanya teknologi, keterbatasan sumber daya serta minimnya akses pengetahuan terbaru. Maka tiada lain dan tiada bukan, Al-Qur’an itu berasal dari Sosok yang menciptakan semua ini. (Syahputra, 2026)
Tak sama dengan agama lain, ajaran Al-Qur’an nyatanya mampu tetap relevan dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi serta dinamika perkembangan zaman. Ia mampu menyesuaikan dengan unsur sosial dan budaya setempat sehingga tak kenal batasan ruang dan waktu. Pada prinsipnya, apapun kondisi dan latar belakang tempat dan masa itu berada, Al-Qur’an mampu mengeluarkan nilai-nilai kemaslahatan Islami di tengah-tengah masyarakat heterogenitas. Inilah maksud bahwa Al-Qur’an Shalih li Kulli Zaman wal Makan, Al-Qur’an selalu relevan karena nilainya universal sehingga mampu menjawab tantangan masyarakat dan memecahkan masalah umat, sifatnya yang fleksibel dan dinamis menjadikannya rujukan paling utama atas tiap hal selama mampu dicerna dan dipahami secara kontekstual
Pada akhirnya, akal yang jernih pasti akan menuntun seseorang menuju sesuatu yang lebih tinggi karena sejatinya ia tidak pernah bertentangan dengan wahyu. Keduanya merupakan alat untuk mencapai kebenaran. Jika ia digunakan dengan baik, niscaya ia akan mendapati iman sebagai konsekuensi logis dari segala macam pencarian dan seluruh jenis pencapaian. Ketika akal dan wahyu dipersatukan dan digunakan dengan bijak, maka ia akan sadari bahwa ternyata selama ini tidak ada dikotomi antara keduanya, begitu pula antara logika dan iman, antara Al-Qur’an dan sains, antara ajaran Islam dengan ilmu pengetahuan umum sebab ujung dari segala ujung segala sesuatu muaranya adalah hanya pada Allah SWT.
وَاَنَّ اِلٰى رَبِّكَ الْمُنْتَهٰى
Artinya: “Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu)” (An-Najm ayat 42).
Referensi;
Ataka, A. (2024). Logika Keimanan. Jakarta: Turos Pustaka.
Nuruddin, M. (2025). Dasar-Dasar Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Depok: Keira.
Syahputra, J. (2026). Logika & Tuhan. Depok: Keira.
Mochammad Yusuf Alif Chabibi, S.Ag- Guru Al-Qur’an SMA Islam Al Azhar 14 Semarang

