Teman Berprestasi, Bisakah Aku Seperti Mereka?
Mengelola FOMO Akademik dengan Sehat
Finda Marsetyana, S.Pd., Gr.

Pernah tidak kamu merasa sedikit tertinggal ketika melihat teman-temanmu berprestasi? Ada yang baru menang lomba, ada yang ikut olimpiade, ada yang aktif di berbagai organisasi sekolah. Kadang kabar itu datang dari cerita di kelas, kadang juga muncul di media sosial. Tanpa sadar, muncul pikiran “Aku kok belum seperti mereka yaa??”
Perasaan seperti ini sebenarnya sangat wajar dialami oleh siswa SMA. Dalam psikologi, perasaan ini dikenal dengan istilah FOMO atau Fear of Missing Out. FOMO adalah rasa takut tertinggal dari orang lain, terutama ketika kita melihat orang lain melakukan sesuatu yang terlihat lebih berhasil atau lebih menarik.
Masalahnya bukan pada perasaan itu sendiri. FOMO menjadi masalah ketika kita mulai menilai diri kita hanya dari pencapaian orang lain. Kita merasa harus selalu mengikuti apa yang dilakukan teman, seolah-olah jika tidak melakukannya kita akan tertinggal jauh.
Ketika Prestasi Teman Membuat Kita Gelisah
Di sekolah yang penuh dengan siswa berprestasi, suasana kompetitif sebenarnya bisa menjadi hal yang positif. Melihat teman berhasil seringkali membuat kita ikut termotivasi. Kita jadi berpikir, “Kalau dia bisa, mungkin aku juga bisa mencoba.”
Namun kadang motivasi itu berubah menjadi tekanan. Ada siswa yang mulai merasa harus ikut semua kegiatan akademik agar terlihat sama produktifnya dengan teman-temannya. Ada juga yang merasa kurang percaya diri hanya karena prestasinya tidak sebanyak orang lain.
Sebagai Guru Bimbingan dan Konseling, kami cukup sering mendengar cerita seperti ini. Beberapa siswa merasa panik karena teman-temannya sudah ikut berbagai lomba atau kursus tambahan, sementara mereka belum. Padahal sebenarnya setiap siswa memiliki minat, kemampuan, dan waktu perkembangan yang berbeda.
Mengenali FOMO Akademik Sebelum FOMO Mengendalikanmu
Salah satu bentuk FOMO yang sering muncul di sekolah adalah FOMO akademik. Perasaan ini muncul ketika siswa merasa harus mengejar pencapaian akademik tertentu hanya karena melihat orang lain melakukannya.
Contohnya seperti merasa harus ikut lomba tertentu karena banyak teman yang ikut. Atau merasa harus mengambil banyak kegiatan tambahan supaya tidak dianggap tertinggal. Sekilas hal ini terlihat seperti semangat untuk berkembang, tetapi jika tidak disadari bisa membuat siswa menjalani banyak hal sekaligus tanpa benar-benar memahami apa yang sebenarnya mereka inginkan.
FOMO akademik juga bisa membuat siswa terus membandingkan dirinya dengan orang lain. Akibatnya, apa pun yang mereka capai terasa kurang. Padahal proses belajar setiap orang tidak pernah sama.
“Jangan bandingkan babak pertama hidupmu dengan babak ketiga orang lain. Kamu tidak pernah tahu perjalanan apa yang sudah mereka lewati.”
Setiap Orang Berjalan di Jalannya Sendiri
Salah satu hal penting yang perlu dipahami oleh siswa adalah bahwa setiap orang memiliki jalur perkembangan yang berbeda. Ada yang cepat menemukan minatnya di bidang akademik. Ada yang berkembang melalui organisasi. Ada juga yang baru menemukan potensinya setelah mencoba berbagai hal.
Dalam kehidupan, tidak semua keberhasilan harus datang lebih cepat dari orang lain. Yang lebih penting adalah apakah kita sedang berkembang dengan cara yang sehat dan sesuai dengan diri kita sendiri.
Dalam perspektif nilai yang kita pelajari di sekolah islam, kita juga diajarkan bahwa setiap orang memiliki waktu dan rezekinya masing-masing. Tidak semua kesempatan harus datang sekarang. Tidak semua pencapaian harus terjadi di usia yang sama.
Kadang apa yang terlihat seperti ketertinggalan sebenarnya hanyalah proses yang sedang mempersiapkan kita untuk tumbuh dengan cara yang lebih tepat.
Belajar Mengelola FOMO dengan Sehat
FOMO tidak harus selalu dihindari. Perasaan ini bisa menjadi pengingat bahwa kita juga ingin berkembang. Namun yang perlu dijaga adalah cara kita menyikapinya.
Pertama, cobalah bertanya pada diri sendiri. Apakah kamu ingin melakukan sesuatu karena benar-benar tertarik, atau hanya karena takut tertinggal dari orang lain?
Kedua, pilih kegiatan yang benar-benar sesuai dengan minat dan kemampuanmu. Tidak semua kesempatan harus diambil sekaligus. Fokus pada beberapa hal yang benar-benar kamu sukai sering kali jauh lebih bermakna daripada mencoba melakukan semuanya.
Ketiga, jangan lupa menjaga keseimbangan. Belajar, berprestasi, dan aktif di sekolah memang penting. Tetapi istirahat, menjaga kesehatan mental, dan menikmati masa remaja juga sama pentingnya.
Prestasi yang Tumbuh dari Ketenangan
Siswa yang berhasil mengelola FOMO biasanya bukan siswa yang paling sibuk atau paling sering terlihat di berbagai kegiatan. Justru mereka adalah siswa yang tahu apa yang ingin mereka capai dan berani fokus pada jalannya sendiri.
Mereka tetap bisa menghargai prestasi teman, tetapi tidak menjadikannya sebagai alat untuk merendahkan diri sendiri. Mereka tidak lagi terlalu khawatir tentang apa yang orang lain lakukan, karena mereka sedang sibuk membangun prosesnya sendiri.
Dan dari ketenangan itulah prestasi yang sebenarnya sering kali tumbuh.
“Perjalanan akademismu bukan perlombaan untuk hadir di semua pencapaian. Ia adalah proses untuk menemukan cara belajarmu sendiri dan tumbuh sesuai potensi terbaikmu.”

