Teater Lingkar: Ruang Ekspresi Pembangun Karakter dan Solidaritas Lintas Generasi

Bagikan

Teater Lingkar: Ruang Ekspresi Pembangun Karakter dan Solidaritas Lintas Generasi

Oleh: Nayyara Rafifa Surya (X-1)

Hal pertama yang menarik perhatian saya, saat masuk Sanggar Seni Teater Lingkar tertuju pada penari yang berlenggok dengan penuh gemulai. Diiringi oleh petikan gitar dan merdunya sinden membuat suasana latihan tampak lebih hidup. Di sudut lain, beberapa pemain peran tampak sedang mempelajari dialog dengan serius. Sesekali, tawa canda terselip di sela-sela latihan yang menghadirkan suasana penuh hangat dan kebersamaan.

Tampak seorang perempuan yang berperan menjadi sinden sedang melakukan latihan pementasan.

Dalam hangatnya suasana latihan, tersimpan komitmen dan keteguhan pemain.Terpancar jelas dari cara mereka bertanggung jawab saat berlatih, mempelajari bagian yang mereka mainkan untuk projek pentas teater pada bulan Mei 2026 di Kabupaten Demak.

Tak terasa setengah jam berlalu, para pemain teater beristirahat di sudut teras sanggar seni tersebut. Sejuknya angin sore kala itu menemani mereka melepas lelah setelah latihan sepanjang hari. Mereka menyantap camilan dan berbagi cerita dengan penuh kenangan. Salah seorang pria yang sejak tadi mengundang perhatian saya pun ikut duduk bersama berbaur dengan para pemain teater menyatu tanpa jarak.

Para pemain teater sedang berbincang di Teras Sanggar Seni Lingkar.

Di balik keakraban itu, tersimpan peran besar dari Ki Sindhunata Gesit Widiarto, generasi kedua pemilik Teater Lingkar yang didirikan oleh Suharto Padmo Sumarto yang dikenal dengan nama panggung Mas Ton. Shindu mengamati cara ayahnya melatih dan menerapkannya. Tentunya juga menjaga Teater Lingkar hingga dikenal sebagai teater kampung tertua di Jawa Tengah.

Empat puluh enam (46) tahun terakhir ini, Teater Lingkar mempertahankan integritasnya dalam berkecimpung di dunia pentas lakon. “Anak seni nggak boleh baper, harus terbuka pada masukan dan siap berproses bersama,” ujar pria yang akrab disapa Shindu. Prinsip ini ia tanamkan kepada para pemain peran Teater Lingkar yang biasa disebut adik.

Menurutnya, melalui peran yang dimainkan para pemain, dapat membentuk pribadi yang tangguh, disiplin, bertanggung jawab, dan berkembang terhadap setiap proses yang dijalani. “Teater Lingkar bisa bertahan sampai sekarang karena terus berproses menyelaraskan unsur tradisional dan unsur modern agar pesan yang disampaikan tetap relevan di berbagai kalangan,” ucapnya. Tentu saja, konsep yang dipegang Shindu bukanlah sesuatu yang lahir dari proses singkat, melainkan diterapkan sejak masa kepemimpinan ayahnya dan terus dilanjutkan hingga saat ini.

Hal ini tak lepas dari awal mula Teater Lingkar terbentuk di tahun 1980. “Dulu Bapak punya teman di daerah Genuk Krajan II, sekitar Taman Singosari dan Kawasan Taman Hiburan Rakyat (THR) Tegal Wareng. Setelah kenal dekat, mereka ingin membuat sarana untuk menyalurkan kegiatan positif,” ucap Shindu.

Foto mendiang Suhartono Padmo Sumarto Pendiri Teater Lingkar terpajang rapi di dalam sanggar.

Dari langkah sederhana ini, terciptalah Teater Lingkar yang sekarang berlokasi di kawasan Kedungmundu Semarang. Ia sangat menghormati para sesepuh yang membangun sanggar seni hingga tumbuh menjadi wadah kesenian yang terus berkembang hingga saat ini dengan lebih baik.

“Saya selalu melihat bapak dan teman-temannya ketika berteater, saya praktikkan itu saat mengarahkan adik-adik, tentu saja dengan menyesuaikan masing masing karakter mereka yang punya cara belajar berbeda,” ungkap Shindu.

Sejalan dengan apa yang telah Shindu katakan, setiap kegiatan di sanggar ini terasa lebih dari sekadar rutinitas, melainkan proses yang membentuk setiap individu di sanggar seni tersebut. “Setiap minggu berkumpul di sanggar ini, mulai latihan sesuai bagian masing-masing. Jika ada waktu sisa, kami biasanya mengobrol bersama dan saling tukar kemampuan satu sama lain untuk mendapatkan ilmu baru,” ucap Ummi Endah Nur Aini, pesinden di Teater Lingkar itu.

Aufa Nadhif Khalifa, penari di sanggar seni Teater Lingkar, mengatakan bahwa biasanya latihan untuk satu projek sekitar 3 bulan. “Berhubung projek kali ini terbatas waktu latihannya, kami harus berusaha menghafal bagian masing-masing, tapi itu bukan masalah karena kami saling mendukung satu sama lain,” ujarnya.

Shindu yang juga sutradara sekaligus penulis naskah, terjun langsung sebagai aktor yang sangat memahami kesulitan adik-adiknya. Alhasil ketika merancang naskah, ia menyesuaikan keadaan dan kemampuan para pemain.

“Biasanya mendapatkan naskah sesuai dengan kemampuan kami, jadi masalah durasi waktu latihan singkat tidak begitu menjadi beban,” ujar Sodiqul Miftahul Hamid yang kerap disapa Benjo, pemain musik yang turut bergabung dalam perbincangan.

“Tentu saya sangat mempertimbangkan segala aspek saat menulis naskah, contoh pemain yang lebih tua, ketika waktu latihan sedikit, diberikan dialog yang familiar atau gampang untuk dihafalkan,” jelas Shindu. Dengan keseriusannya mengarahkan adik-adiknya, walaupun dengan keterbatasan waktu, Teater Lingkar dapat selalu memberikan pertunjukan yang maksimal di atas panggung. “Meski ada persoalan, kami duduk melingkar dan menyelesaikan bersama dengan setara,” imbuhnya.

 

Seorang pelatih karawitan sedang memperhatikan cara pemain karawitan cilik memainkan perangkat gamelan.

Sanggar Seni Teater Lingkar mempunyai banyak kegiatan. Tak hanya berteater ada juga seni karawitan yang diperuntukan untuk anak-anak usia 5 hingga 12 tahun. Tidak ada syarat khusus lainnya, cukup dapat membaca dan menulis saja. Mereka berlatih setiap minggu sore, pemain teater yang dapat bermain alat musik tradisional, turut mengajari mereka. Para peserta tampak antusias mengikuti setiap proses pembelajaran karawitan ini.

“Sama halnya dengan bergabung di teater, tidak ada syarat khususnya, semua boleh bergabung, cukup dibayar dengan solidaritas tanpa batas saja, dengan ini saya berharap adik-adik dapat melatih keterampilan dan mengembangkan sifat kerja sama, lebih peka, dan percaya diri,” Ungkap Shindu.

Pengrawit cilik sedang praktik memukul saron salah satu perangkat musik gamelan

“Semua kalangan berkumpul di sini. Ada Aufa, Ummi yang bergabung sejak SMA dan para sesepuh yang bergabung sejak awal. Latar belakang kami pun beragam, dipersatukan dan berproses kearah yang lebih baik,” tutur Benjo yang berg izin gabung sejak tahun 2018.

Shindu menjelaskan bahwa bukan hanya pemainnya saja yang bervariasi, penontonnya juga dari pejabat publik, anak-anak, hingga orang tua. Tentunya pertunjukkannya disesuaikan dengan penonton agar dapat memberikan petuah yang sesuai untuk mereka.

Shindu menambahkan bayaran bukanlah kepuasan utama. Cukup baginya melihat penonton bahagia dan termotivasi oleh pementasan serta mengingat pesan moral di setiap pertunjukan.

Keberhasilan Teater Lingkar terbukti dari prestasi yang telah mereka dapatkan di berbagai ajang perlombaan. Sebut saja, Juara 1 Festival Drama Bahasa Jawa di Solo tahun 1994, Juara 2 Festival Bahasa Jawa di Solo tahun 1996, Membawa murid SMA Islam Al-Azhar 14 Semarang menjuarai peringkat pertama lomba Felka bidang monolog pada tahun 2026.

Latihan monolog untuk lomba salah satu SMA Kota Semarang

Teater Lingkar sudah memperoleh pengakuan resmi sebagai sanggar seni dari pemerintah yang terdokumentasi dalam ensiklopedia kebudayaan Indonesia. Ini membuat sanggar dapat memperkuat eksistensinya dan terus konsisten berkembang untuk menjadi lebih baik.

“Keberhasilan kami tak lepas dari filosofi Teater lingkar. Satu titik pusat dan jari-jari panjang. Maknanya, saling terhubung dan saling menguatkan satu sama lain. Kami konsisten berproses bersama dan menjadi bagian dari satu kesatuan yang berkontribusi membangun karakter bangsa melalui seni,” pungkas Shindu mengakhiri obrolan dengan saya dan teman-teman sore itu, Minggu, 19 April 2026.

Nayyara Rafifa Surya (X-1) – Murid SMA Islam Al Alzhar 14 Semarang yang telah meraih Juara II lomba FLS3N Tingkat Kota Semarang Cabang Lomba Jurnalistik.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *